Blog
Ayo dukung Indonesia!

Timnas Indonesia
Dear pelanggan KaosBola.com
Saat ini sedang bergulir pesta olahraga Asia Tenggara yang biasa disebut SEA Games di Palembang dan Jakarta. Mari kita bersama-sama mendukung dan mendoakan agar tim merah-putih kembali menjadi juara umum di pesta olahraga ini, terutama di cabang sepak bola. Ayo, Indonesia Bisa!!
Sepak Bola Filosofi Layang-Layang
Jika ada satu pertanyaan diajukan kepada dua tokoh, Nurdin Halid dan Arifin Panigoro, apakah mereka mencintai sepak bola? Saya yakin keduanya pasti mengatakan: Ya! Dan hal itu tidak bohong.
![]()
Kalau memiliki cinta yang sama pada satu objek, apakah keduanya dapat bersatu? Seperti lirik lagu, Cinta Tak Harus Bersatu. Dalam kondisi sekarang, rasanya hal itu mustahil. Keduanya bagaikan harimau bersua banteng di alam liar.
Pertikaian kadung terbuka dengan paham yang berbeda cara memutar organisasi. Titik temu yang pernah diusahakan beberapa waktu lalu sudah tenggelam ke dasar sungai deras. Bisa juga bak benang kusut yang sulit menemukan ujung pangkalnya.
Sekarang ini yang ada adalah kekerasan hati untuk tetap di jalan terpisah. Saling menegakkan bendera menurut paham masing-masing terhadap satu keyakinan. Unsur kebenaran dan kebohongan tak lagi penting karena terjebak niat menang sendiri.
Percuma kita memilah siapa benar dan salah sebagai penyebab peta sepak bola Indonesia menjadi kacau. Sasaran tembak oposan bukan lagi prestasi tim nasional. Kini target bergerak liar ke titik yang tak jelas dan lebih melibatkan ego pribadi.
Pembaca, kita sama, sama-sama bingung menyaksikan kompetisi sepak bola negeri ini. Laga bukan lagi dimainkan pemain 2 x 45 menit, tapi oleh para tokoh nasional dengan waktu tanpa batas. Situasi tambah parah karena ada tendensi Menpora tidak memosisikan diri di tempat netral.
Indonesia memang spesifik karena memiliki wilayah luas sehingga pernah memutar kompetisi dengan sistem tiga wilayah. Sejak 8 Januari 2011, sudah menjadi aneh karena ada dua kompetisi yang dikelola badan berbeda di lahan yang sama.
LPI (Liga Primer Indonesia) bergerak sendiri tanpa izin PSSI sebagai organisasi sah anggota KONI yang berafiliasi ke FIFA. Kompetisi LSI (Liga Super Indonesia) berputar di bawah BLI (Badan Liga Indonesia), badan sah bentukan PSSI.
Bergulirnya LPI merupakan wujud mosi tak percaya kepada PSSI akibat akumulasi kekecewaan. Arifin terpanggil menangkap opini publik yang anti-Nurdin Halid sehingga membuat kompetisi tandingan.
Tentu saja Nurdin menuding Arifin menawarkan produk ilegal dan dapat merusak semangat fair play sebagai roh sepak bola. Sebaliknya kubu Arifin menilai langkah mereka adalah alat perjuangan menuju sepak bola Indonesia sehat yang tak lagi menghabiskan uang APBD.
***
Cerita Duka PSSI Masih Berlanjut
Buku putih telah ditutup. Selesai sudah babak akhir sebuah cerita heroik yang melelahkan. Apa boleh buat, Firman Utina dan kawan-kawan hanya menorehkan sebuah cerita yang berakhir antiklimaks.
![]()
Impian menjadi kampiun untuk pertama kalinya di arena Piala AFF kembali kandas. Empat kali lolos ke final, namun semuanya berakhir tanpa pernah mengangkat trofi juara di pengujung laga.
Kemenangan 2-1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Rabu malam, menjadi sia-sia. Kalah selisih gol mengantarkan Harimau Malaya mencatatkan diri sebagai negara keempat ASEAN yang pernah menjadi juara menyusul Thailand, Singapura, dan Vietnam.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang berada di antara puluhan ribu penonton, berusaha tenang. Saya yakin di dalam hati presiden tergores perasaan duka menerima hasil akhir yang tak menggembirakan itu.
Kegagalan ini menambah sentimen masyarakat Indonesia kepada Malaysia. Kasus laser penonton yang mengganggu kiper Markus Horison menjadi salah satu pemicu.
Pada pertandingan leg 1 di Bukit Jalil, 26 Desember, secara mengejutkan pasukan Rajagobal itu bermain apik. Di sisi lain, timnas Indonesia seperti kehilangan arah dan koordinasi permainan. Skor kemenangan tanpa balas dibukukan tuan rumah Malaysia.
***
Diskon untuk stok lama
Saat ini kami masih memiliki beberapa stock jersey dari musim-musim yang lalu. Oleh karena itu, kami ingin memberikan diskon sebesar @ Rp 5.000 untuk stock lama tersebut. Ayo segera cek Info Stock kami!
E-mail SPAM
Terkait e-mail dari para pelanggan KaosBola.com yang sering tidak direspons oleh kami, kami memohon maaf sebesar-besarnya. Kami baru menyadari bahwa banyak e-mail dari Anda yang “tersangkut” di SPAM folder e-mail kami.
Demikian permohonan maaf kami, semoga maklum.
KaosBola.com
Sejarah Kartu Merah dan Kartu Kuning

Apakah penggunaan kartu merah dan kuning sudah dikenal begitu sepak bola modern muncul? Jawabannya tidak. Kartu merah dan kuning baru diperkenalkan di Piala Dunia 1970 Gan.
Namun, inspirasinya muncul pada Piala Dunia Tahun 1966. Pada perempat final antara tuan rumah Inggris lawan Argentina. Wasit yang memimpin pertandingan itu berasal dari Jerman, yakni Rudolf Kreitlein. Karena melakukan pelanggaran keras, kapten Argentina, Antonio Rattin, dikeluarkan oleh Kreitlein. Namun, Rattin tak paham apa maksud wasit asal Jerman itu. Dia pun gak langsung segera meninggalkan lapangan.
Wasit Inggris yang ikut bertugas di pertandingan itu, Kn Aston, kemudian masuk ke lapangan. Dengan sedikit modal bahasa Spanyol, dia merayu Rattin untuk meninggalkan lapangan. Sebab, wasit yang memimpin pertandingan, Rudolf Kreitlein, memutuskan begitu. Karena hanya tahu bahasa Jerman dan Inggris, ia kesulitan menjelaskan keputusannya kepada Rattin. Karena kasus ini, Ken Aston kemudian berpikir. Harus ada komunikasi universal yang bisa langsung diketahui semua orang, ketika wasit memberi peringatan kepada pemain atau mengeluarkannya dari lapangan. Sehingga, wasit tanpa harus membuat penjelasan dengan bahasa yang mungkin tak diketahui pemain.
